...ahlan wasahlan para pengembara ilmu...
Tampilkan postingan dengan label alkisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alkisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

baju besi

 Sya’bi meriwayatkan, ketika menjabat sebagai khalifah, sayyidina Ali bin Abi Thalib ra pernah kehilangan baju besi, dan ternyata baju besi itu berada di tangan seorang yang beragama Nasrani. Lalu sayyidina Ali melapor kepada hakim yang bernama Syuraih, menuntut agar baju besi itu dikembalikan kepadanya.

Dalam sidang pengadilan Sayyidina Ali ra berkata,

“Baju besi ini kepunyaanku, tidak kujual dan kuberikan kepada siapapun.”

Hakim bertanya kepada orang Nasrani itu,

“Apa jawabanmu terhadap tuduhan Amirul Mu’minin ini?”

Jawab Nasrani,

“Baju besi ini kepunyaanku. Namun demikian bukan berarti aku menuduh Amirul Mu’minin berdusta.”

Hakim bertanya kepada sayyidina Ali ra,

“Ya Amiral Mu’minin, adakah Engkau mempunyai bukti?”

Sayyidina Ali ra tersenyum dan menyatakan tepat apa yang dilakukan oleh hakim Syuraih. Sayyidina Ali ra mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai bukti bahwa baju perang itu adalah miliknya.

Akhirnya hakim itu memutuskan bahwa baju perang itu kepunyaan Nasrani. Lalu diambilnya, dan setelah berjalan beberapa langkah, dia kembali berucap,

“Aku mengakui bahwa ini adalah putusan para nabi. Amirul Mu’minin mengadukanku pada hakim, lalu dipertimbangkan dan hakim memenangkanku. Sekarang aku bersaksi, ‘Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.’ Demi Allah, baju besi ini benar kepunyaanmu, wahai Amirul Mu’minin. Ia terjatuh ketika Engkau dalam perjalanan menuju Shiffin.”

Sayyidina Ali ra berkata,

“Karena Engkau telah memeluk Islam, maka baju besi itu kuberikan padamu.”

Hati sanubari dibawah bimbingan iman itulah yang menuntun sayyidina Ali ra (seorang kepala negara) dan Syuraih (seorang hakim) kepada keadilan. Khalifah yang beriman itu tidak bersedia menggunakan kekuasaannya mengambil kepunyaannya atau mempengaruhi hakim supaya memberikan putusan menurut kepentingannya.

[Dikutip dari buku "Merasakan Kehadiran Tuhan", karya Dr. Yusuf Qardhawi]

Rabu, 29 Februari 2012

putus asa syaithon

Putus asanya syaiton terhadap umat Nabi Muhammad SAW

Suatu ketika di zaman Tuan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, dikala beliau sedang menuju ke masjid beliau melihat syaiton dalam keadaan muka yang pucat, badannya yang kurus dan pundaknya yang bengkok.
Lalu Tuan Syekh berkata kepada syaiton tersebut, "hai syaiton, kenapa muka engkau pucat ?"
Dan Syaithon pun menjawab, "begini Tuan Syekh aku pucat dikala aku menunggu orangtua yang sedikit lagi mati dan aku menggodanya agar dia mati dalam su’ul khotimah, tetapi aku pucat dikala dia membacakan “Yaa Allah biha Yaa Allah biha Yaa Allah Bi khusnil khotimah” dan aku takut ia mati khusnul khotimah, karena itulah aku pucat."

"Lalu mengapa engkau kurus ?"
"begini Tuan Syekh aku bangga dan sehat tubuhku bila seorang anak cucu adam dan umat Muhammad dikala ia makan dan minum tidak membaca nama Tuhannya tetapi aku kurus bila ada diantara mereka yang kugoda tetapi setiap ia makan dan minum dia membaca “Bismillahirrahmanirrahiim” , sebab inilah aku menjadi kurus."

"Dan mengapa engkau bengkok?"
"begini Tuan Syekh aku adalah penggoda dan selalu menjadi penggoda, kuberatkan ia untuk shalat, puasa, dan menginggat Allah khususnya ku goda bagi mereka yang muda, kumasuki hawa nafsunya untuk tidak sujud kepada Tuhannya dan tidak mencintai kepada Nabinya, aku merasa terbebani bila ada seorang pemuda yang ku goda langkahnya dan ku goda nafsunya untuk jauh dari ilmu tetapi ia melawannya dan bengkoklah aku dikala ia duduk dimajlis ilmu menyebut-nyebut nama Tuhannya dan menyebut-nyebut nama Muhammad, terbebani aku terbebani seakan aku membawa gunung di pundakku, tapi ingatlah wahai Tuan Syekh jika ia melanggar perintah Allah dan Muhammad Rasulnya ketahuilah bahwa aku adalah sahabat dekatnya dan tidak akan aku biarkan ia bersamamu"
Maka Tuan Syekh berkata, "aku berlindung dari godaan syaiton yang terkutuk, enyahlah engkau!". Maka tertawalah ia (syaiton) lalu pergi..